Maret 2023 Menang Setiap Hari Hidup Kristiani Pikiran Kristus Efesus

Hidup Yang Tidak Mengenal Allah

Mar 04, 2023

(Pembacaan Alkitab: Efesus 4:17-32)

Hidup bukanlah soal berapa lama kita hidup, berapa banyak harta yang kita miliki selama kita hidup, melainkan jauh lebih bermakna daripada itu. Seseorang boleh saja memiliki banyak harta selama hidupnya, boleh saja dipuji, dihormati di mana pun ia berada, tapi selama hidupnya tidak mengenal Allah, hidupnya tetap saja hampa, tidak bermakna. Sedangkan orang yang mengenal Allah dengan benar, tantangan atau masalah boleh ada dalam hidupnya tapi ia akan tetap bersyukur dan bersukacita karena kepastian bahwa Tuhan takkan pernah meninggalkan dia.


Bagaimana ciri-ciri orang yang tidak mengenal Allah?

  1. Pikirannya sia-sia dan pengertiannya gelap (ayat 17-18). Yaitu, yang ia pikirkan hanyalah hal-hal yang sementara, hal-hal yang dari daging, hal-hal yang duniawi. Ketika ada yang menyakiti hatinya, ia simpan dalam hati, ia dendam, lalu ia pikirkan hal-hal yang buruk, sehingga dalam hidupnya tidak ada damai, tidak ada sukacita. Demikianlah orang yang tidak mengenal Allah pikirannya sia-sia dan pengertiannya gelap.
  2. Perasaannya sudah tumpul (ayat 19). Yaitu, ia sudah tidak lagi peka, mana yang halal, mana yang haram; ia sudah tidak lagi peka, mana kehendak Allah, mana kehendak setan; ia sudah tidak lagi mampu membedakan, mana yang baik, mana yang tidak baik; pokoknya ia masabodo! Banyak orang mengaku pemimpin rakyat tapi perasaannya sudah tumpul; yang mereka pikirkan hanya kepentingan mereka sendiri. Orang yang tidak mengenal Allah takkan merasakan damai sejahtera dalam hidupnya.
  3. Mendengar Firman namun tidak menjadi pelaku Firman (ayat 21). Alkitab menekankan, "Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja." Bukan seberapa banyak Firman yang telah kita dengar, melainkan sudah berapa banyak Firman yang kita praktikkan dalam hidup seharihari. Alkitab mengatakan, "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." Demikianlah hendaknya kita menjadi pelaku Firman dalam hidup sehari-hari.
  4. Tidak menanggalkan manusia lama (ayat 22). Yaitu, sudah mendengar Firman tapi masih hidup dengan manusia lamanya.


Hidup Kristiani yang sejati adalah hidup yang mengenal Allah, yang pikirannya adalah pikiran Kristus, yang perasaannya peka akan kehendak Allah, yang mendengar Firman dan menjadi pelaku Firman, yang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, sehingga kita berani berkata, “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Ketika kita hidup mengenal Allah, kita akan hidup dalam kemenangan, kuasa, dan kemuliaan-Nya. Amin!