Orang Yang Paling Hina
Mar 01, 2023
(Pembacaan Alkitab: Efesus 3:1-13)
Manusia sering memperhatikan hidup sesamanya lalu menghakimi, "Idih... hina amat ya." Seandainya pun ada yang berkata, "Siapalah saya ini ... Saya kan orang yang hina," biasanya itu diucapkan dengan nada rendah diri, kecewa, putus asa, yang ujung-ujungnya disusul dengan sungut-sungut. Tapi Paulus justru dengan bangga berkata, "Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini..."
Dalam kehidupan dan pelayanannya, Paulus banyak mengalami pergumulan, tapi ia tidak bersungut-sungut; ia malah senantiasa bersyukur, bahkan di masa-masa yang paling sukar pun. Sayangnya, di akhir zaman ini banyak orang yang ketika menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan atau pelayanannya, bersungut-sungut.
Apa yang menyebabkan Paulus dengan bangga mengaku dirinya yang paling hina, namun tetap tegar menghadapi segala perkara?
1. la ingat, dari mana ia telah diangkat. Terkadang kita terlalu sombong, merasa diri yang paling baik, merasa diri yang paling benar; kita lupa, dari mana kita telah diangkat. Kita telah diangkat dari kegelapan, dari lumpur dosa, dari kehancuran. Dengan kata lain, kita hanyalah orang hina yang telah diangkat oleh Tuhan. Sudah layak dan sepantasnya kalau kita hidup bersyukur dan bersukacita, dan tetap tegar menghadapi segala masalah, karena kita telah diangkat dari kehinaan dan sedang dipersiapkan untuk hidup dalam kemuliaan Allah.
2. la ingat, kasih karunia Allah yang melimpah-limpah. Banyak orang menganggap dirinya berharga, dirinya hebat, tapi orang yang ingat akan kasih karunia Allah akan selalu berkata, "Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang." Sudah saatnya kita menyadari kasih karunia Allah yang melimpah-limpah dalam hidup kita sehingga kita sanggup melakukan segala perkara dengan segenap hati.
3. la imani kemuliaan yang akan ia terima kelak. Ketika kita imani kemuliaan yang akan kita terima kelak, segala sesuatu yang kita punya hari ini tidaklah ada apa-apanya malah hina - dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima kelak.
Sebagai hamba Allah, saya mau ingatkan, sudah saatnya kita menyadari siapa kita, dari mana kita telah diangkat. Ketika kita menyadari siapa kita, kita akan melakukan segala sesuatu tanpa bersungut-sungut melainkan selalu bersyukur dalam segala perkara, sehingga kita akan selalu hidup dalam kemuliaan Tuhan dan selalu mengalami kemenangan demi kemenangan dalam kuasa-Nya. Amin!


