Menengok Ke Belakang
(Pembacaan Alkitab: Filipi 3:1b-16)
Banyak persoalan yang dihadapi manusia karena cenderung menengok ke belakang: trauma, kecewa, benci, sehingga tidak sedikit orang yang menjadi homo seksual, lesbian, karena hidupnya penuh dengan trauma masa lalu, dan ia tidak bisa bebas dan tidak bisa lepas dari ikatan trauma ini. Saudara-Saudari yang dikasihi Tuhan, kita perlu belajar dari hari kemarin tapi bukan hidup di hari kemarin; jangan lagi menangisi hari kemarin, jangan terus saja menengok ke hari kemarin, belajarlah untuk hidup di hari ini sambil siap menghadapi hari esok; belajarlah dari hari-hari kemarin dan ketahuilah bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia."
Hidup Kristiani jelas-jelas adalah hidup yang memandang ke depan:
- Karena ketika kita memandang ke belakang, kita tak dapat melihat tujuan kita. Masing-masing orang telah Tuhan berikan tujuan, dan tujuan kita adalah menjadi orang percaya yang teguh, menjadi orang percaya yang memandang Tuhan, dan menjadi orang percaya yang serupa dengan Kristus. Orang yang memandang ke belakang takkan pernah bisa melihat tujuannya, karena tujuan kita bukanlah di belakang. Di belakang boleh ada kegagalan dan kesalahan, tapi di depan ada tujuan yang Kristus berikan bagi hidup kita, ada rencana Allah, ada mahkota yang Kristus sediakan.
- Karena ketika kita memandang ke depan, kita tidak terikat oleh pengalaman-pengalaman di belakang kita. Setan mau mengikat kita dengan pengalaman-pengalaman di belakang kita agar kita tidak maju-maju, agar kita tidak bisa menjadi serupa dengan Kristus. Paulus mengatakan, "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya...di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya." Artinya Paulus tidak mau terikat dengan yang di belakangnya, karena yang di belakang itu terlalu pahit dan mengecewakan, sedangkan yang di depan adalah janji Allah yang luar biasa.
- Karena ketika kita memandang ke depan, kita berani melepaskan segalanya. Paulus mengatakan, "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku...Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus."
- Karena ketika kita memandang ke depan, kita menaruh iman kita pada Tuhan. Ketika kita memandang ke belakang, kita banyak menangis dan kecewa, tapi ketika kita memandang ke depan, kita tahu rencana-Nya bagi hidup kita, kita menaruh iman pada Kristus, dan kita berkata, "Tuhan, aku tidak goyah dan aku tahu bahwa persoalannya bukanlah apa yang sedang aku jalani melainkan dengan siapa aku menjalaninya. Apa yang sedang kujalani boleh saja berat tapi ketika aku menjalaninya bersama-Mu, aku tahu bahwa tidak ada perkara yang mustahil."
Mungkin ada orang-orang yang mengecewakan Saudara, tapi ingat, persoalannya bukanlah apa yang kita jalani melainkan dengan siapa kita menjalaninya, yaitu Kristus yang tidak pemah gagal dan yang mengajar kita lewat peristiwa-peristiwa pahit untuk menyediakan anggur manis dalam hidup kita, sehingga jalan hidup kita selalu penuh dengan kemenangan dan sukacita. Amin!


