Rumah Tangga Kristiani
(Pembacaan Alkitab: Kolose 3:18-25)
Saya percaya bahwa rumahtangga Kristiani berbeda dengan rumahtangga dunia pada umumnya. Di mana letak perbedaannya? Dalam pandangan Kristiani tentang keluarga dikatakan, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu." Sedangkan dalam pandangan dunia, suami istri adalah tetap dua insan dalam satu bahtera rumahtangga; dunia seumpama lautan luas, rumahtangga seumpama bahtera di mana suami menjadi kaptennya sedangkan istri menjadi penolong. Jadi kemungkinan berpisah selalu ada. Sedangkan Alkitab mengatakan, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia...Sebab Aku membenci perceraian."
Saudara-Saudari yang dikasihi Tuhan, dalam bacaan Kitab Suci hari ini dijelaskan segala sesuatunya tentang istri, suami, anak-anak, orangtua dan antara tuan dengan hamba. Dari sini dapat kita pelajari beberapa hal menarik, antara lain:
- Masing-masing kita punya tanggung jawab (ayat 18-22). Masalah dalam keluarga sering timbul ketika masing-masing anggota menekankan haknya saja; suami menekankan bahwa ia kepala keluarga, istri menekankan haknya untuk dikasihi. Ketika anggota rumahtangga hanya menekankan haknya, ujung-ujungnya akan berakhir dengan kekecewaan dan sakit hati serta kebencian. Sebagai hamba Allah saya mau tegaskan, mari kita saling menekankan tanggung jawab, sehingga kita akan berkata, "Tuhan jadikan aku suami yang baik ..."; "Tuhan, jadikan aku istri yang baik."
- Masing-masing kita harus melaksanakan tanggung jawab dengan segenap hati (ayat 23). Kita harus melaksanakan tanggung jawab dengan segenap hati, bukan setengah-setengah. Mengasihi istri, mengasihi suami, mengasihi anakanak, harus dengan segenap hati, sehingga kita akan melaksanakan tanggung jawab kita masing-masing juga dengan segenap hati. Sebagai hamba Allah, saya ingatkan, mari masing-masing melaksanakan tanggung jawab kita dengan segenap hati.
- Masing-masing kita harus menyadari bahwa ada upah yang tersedia (ayat 2425). Mungkin sebagai istri, Saudari menangis dan berkata, "Bagaimana mungkin aku tunduk dan mengasihi suamiku kalau ia menyakiti hatiku?" Ingat, ada upah yang menanti. Mungkin sebagai suami, Saudara berkata, "Istriku menyakiti hatiku, mengecewakan aku, bagaimana mungkin aku mengasihi dia dengan kasih yang tulus?" Ingat, ada upah yang menanti. Ingat, apa pun yang Saudara perbuat dengan segenap hati, ada upah yang menanti.


